Sinis Menatap Dunia…

Wisata

Mengapa Saya Tidak SMS Vote Komodo?

Partisipasi Pulau Komodo mengikuti ajang nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders sudah menuai kontroversi ketika tiba-tiba Menbudpar (waktu itu masih dijabat Bapak Jero Wajik) mengumumkan bahwa Pemerintah Indonesia secara resmi menarik Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis dalam ajang pemilihan tujuh keajaiban alam-baru atau New Seven Wonder of Nature (N7WN) yang semula akan dideklarasikanpada 11 November 2011. Pada awal Februari 2011, Jero Wajik pernah melapor ke Boediono Wapres tentang perihal syarat setor uang senilai US$45 juta atau lebih dari Rp. 400 miliar agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah final kontes ini. Saat itu, kata Jero Wajik, permintaan uang itu disertai ancaman Pulau Komodo akan dicoret jika Pemerintah Indonesia tidak bersedia.

Yang menguatkan saya untuk tidak ikut-ikutan vote adalah berita dari situs suarasurabaya.net. Dengan mengatasnamakan rasa malas, dibaca saja keseluruhan beritanya. Tidak saya potong-potong agar maknanya tidak berubah. (lebih…)

Iklan

Sejarah Dalam Loka (Istana Tua) Sumbawa

Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389). Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597). Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan.

Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang sebagai berikut : (lebih…)


Situs Bersejarah di Kabupaten Sumbawa

1. Makam Sampar
Letaknya tidak jauh dari kota Sumbawa besar, sekitar 1 km arah timur Dalam loka.
Dengan mendaki bukit setinggi 100 m dari Ai-Awak maupun Keban-Lapan kelurahan Seketeng, Sumbawa Besar, kita akan langsung tiba di depan gerbang lokasi perkuburan Makam Sampar.
Situs ini disebut Makam Sampar, karena terletak di atas sampar (daratan di atas bukit).
Sengaja di tempatkan di atas bukit mengikuti tradisi para leluhur yang biasanya membuat makam/perkuburan di atas bukit. Agak berbeda dengan makam-makam disekitarnya karena dimakam sampar ini merupakan kuburan para raja Sumbawa terdahulu bersama ahli kerabatnya.
Meskipun lokasinya diatas bukit, namun tidaklah lebih tinggi dari makam-makam rakyat biasa di sekitarnya. Dan bahkan masih ada makam-makam  rakyat biasa yang berada lebih tinggi dari makam sampar itu sendiri. Makam Sampar dikelilingi oleh batu-batu yang disusun sedemkian rupa seperti tembok setinggi 1 m yang membatasinya dengan kuburan masyarakat biasa.
Siapa nama-nama raja Sumbawa yang dikuburkan di makam sampar tidak dapat ditunjukkan  dengan pasti karena tidak ada tanda-tanda khusus yang dicantumkan pada tiap kuburan. Hal ini terjadi dengan alasan bahwa islam tidak memperkenankan pengkultusan terhadap kuburan.
Sekarang ini disebelah timur Makam Sampar telah dibangun perumahan Bukit Permai, sehingga makin mudah kita mengunjungi Makam Sampar. Untuk mengunjungi kita dapat dipandu oleh juru Peliharanya Ahmad Yani yang tinggal di Keban Lapan Seketeng Sumbawa.

2. Makam Karongkeng
Karongkeng adalah sebuah desa yang berjarak 6 km dari Empang ibu kota kecamatan Empang (107 km dari Sumbawa Besar).
Untuk mengunjungi Makam Karongkeng kita dapat menggunakan kendaran cidomo, sepeda motor ataupun mobil karena jalannya cukup baik. Melalui jalur jalan dari Empang, sebelum memasuki dusun karongkeng ada tanjakan sepanjang 50 m. pada akhir tanjakan sebelah kanan terlihat papan petunjuk Makam Karongkeng. Memasuki areal makam terasa sejuk Karena berada di Lutuk kerimbunan daun pohon asem disekitarnya.
Untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan lebih jauh, ada juru pelihara  yang tinggalnya tidak jauh dari makam didalam dusun karongkeng yang bernama Ipok (Fatimah) ibunya Adnansyah. Mereka adalah keturunan juru pelihara makam terdahulu. Dari profil makam terlihat bahwa jasad yang terkubur ditempat itu bukanlah orang sembarangan. Beliau adalah H. Abdul Karim (Haji kari) seorang penyiar/mubaliq islam. Beliau adalah tokoh yang memiki karamah, karena konon beliau pergi dan pulang ke mekkah tanpa melalui perjalanan yang biasa. Abdul Karim adalah anak dari keluarga biasa, namun Allah mentaqdirkanya dengan ilmu dan karamah sehingga beliau mengembangkan islam di Sumbawa bagian timur jauh sebelum raja Sumbawa masuk islam di tahun 1623. Sayangnya kita tidak dapat mengetahui secara pasti masa kehidupan Abdul Karim.

3. Situs Ai Renung

Situs Ai Renung

Situs Ai Renung

Situs Ai Renung adalah situs pertama yang ditemukan di Kabupaten Sumbawa. Penemunya adalah Dinullah Rayes dari Kabin Kebudayaan Kabupaten Sumbawa tahun 1971 bersama Drs. Made Purusa dari Balai Arkeologi Denpasar serta tenaga ahli dari pusat Arkeologi nasional yang melakukan penelitian pertama. Pada penelitian pertama ditemukan hanya tiga buah sarkofagus, lalu setelah dilakukan penelitian yang berkelanjutan, sampai saat ini sudah ditemukan tujuh buah sakofagus (kuburan batu).
Disebut situ Ai renung Karena berada dikompleks persawahan Ai-renung dekat kampung Ai Renung (waktu itu). Seluruh lokasi tersebut berada dalam wilayah Desa Batu Tering kecamatan Moyohulu. Setelah dilakukan pemugaran, situs Ai Renung sebenarnya sudah dapat dijadikan obyek wisata budaya. Tetapi karena tidak ditunjangnya dengan pembangunan jalan raya ke lokasi situs, maka obyek menjadi jarang dikujungi orang.
Tetapi tidak jarang juga para mahasiswa dan peneliti asing datang ke Ai Renung, terlebih mahasiswa arkeologi.
Padahal lokasinya sangat memungkinkan untuk dukembangkan menjadi obyek wisata, baik wisata budaya, alam
(wana-wisata), camping dan lain-lain.
Untuk datang ke Ai Renung yang berjarak 5 km dari Batu Tering (30 km dari Sumbawa besar). Sebelum memasuki gerbang Desa Batu Tering, ada simpang jalan ke kanan arah selatan. Dari itu jalan kaki sejauh 5 km yang ditempuh selama 1 sampai 1,5 jam. Bagi yang nekad boleh saja naik motor karena jalan menanjak dan berbatu-batu, namun kendaraan tidak boleh dibawa masuk ke lokasi situs Karena akan mengganggu kelestarian benda cagar budaya.
(lebih…)


Sumbawa, Kaya Geowisata Miskin Promosi

TANPA dinyana ternyata Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki kekayaan geologi yang luar biasa. Potensi itu kini dikembangkan menjadi obyek wisata minat khusus, geowisata.
Nama geowisata memang masih asing di telinga penduduk Indonesia. Istilah kurang populer, kurang ngetop dibandingkan dengan ekowisata. Padahal di Amerika Serikat, geowisata identik dengan ekowisata.
Bahkan, belahan dunia lain geowisata ditempatkan sebagai bagian dari wisata alam minat khusus yang prinsipnya mengikuti kaedah-kaedah ekowisata dan geowisata, sebagai bagian dari ekowisata harus tunduk pada prinsip-prinsip berwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Apalagi kecenderungan wisata kembali ke alam atau “back to nature” memberikan peluang pemberdayaan potensi fenomena alam geologi sebagai tujuan wisata alternatif. Dan Geowisata sebagai salah satu kegiatan wisata alam merupakan suatu konsep wisata yang ramah lingkungan, menyuguhkan pemahaman proses kebumian yang berhubungan dengan keunikan dan kelangkaan fenomena alam tersebut sebagai sebuah daya tarik wisata.
Memang penyelenggaraan wisata alam geologi ini memerlukan panduan, pengaturan dan pengawasan yang memadai untuk menjamin keselamatan, kenyamanan wisatawan dan keberlanjutan jenis geowisata ini.
Untuk menggapai itu, Sumbawa kini berjuang keras. Berbagai langkah ditempuh dengan start dari awal yakni melakukan inventarisasi. Hasilnya di Sumbawa terdapat 10 titik lokasi geologi yang memiliki potensi geowisata, yakni:

  • Pantai Batugong di Desa Labuan Badas, Kecamatan Badas
  • air terjun Aikbeling di Dusun Kuangmo, Desa Sempe, Kecamatan Moyohulu.
  • geowisata perbukitan Tarakini di Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang,
  • Air Terjun Tebamurin di Dusun Brangrea, Desa Lenangguar, Kecamatan Ropang
  • obyek wisata Liang (goa) Petang di Desa Batutering, Kecamatan Moyohulu.
  • Potenasi geologi lainnya adalah Pantai Tanjung Menangis di Dusun Omo, Desa Panyaring, Kecamatan Moyohilir
  • mataair panas di Dusun Simu, Desa Maronge, Kecamatan Lape Lopok,
  • air terjun Mata Jitu di di Pulau Moyo,
  • Goa Tanjung Pasir dan
  • Goa Aik Manis.

Sayang, kekayaan Geowisata di Sumbawa belum bisa terangkap, dijual ke wisatawan mancanegara yang kini cenderung memegang prinsip berwisata ‘back to nature’. Sayang, Pemda Sumbawa tidak punya dana cukup untuk promosi, publikasi apalagi membikin brosur dan menyebarkan ke kedutaan yang harus ada dana besar. Ibarat pepatah ‘nafsu besar dana kurang’ yang kini menyelimuti pariwisata Sumbawa.
Siapa yang mau membantu, siapa yang peduli. Ternyata teriakan ini sudah diteriakan berulangkali. Sayang nggak ada yang dengar, termasuk pusat yang membawahi pariwisata. Menyedihkan memang. (Endy)

Sumber: Wisatanews

Diposting di Big Zhambava, temen2 kantor udah pada pulang ngejar “Romong” :-).

Sodara, adakah kau berminat ber-Geowisata di Sumbawaku tercinta?