Sinis Menatap Dunia…

Sejarah

Sejarah Dalam Loka (Istana Tua) Sumbawa

Pulau Sumbawa yang terletak di Propinsi NTB, telah didiami manusia sejak zaman glasiasi (1 Juta tahun yang lalu), dan mengawali masa sejarahnya mulai abad 14 Masehi ketika terjadi hubungan politik dengan kerajaan Majapahit yang saat itu berada di bawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk dengan Maha Patihnya yang terkenal, Gajah Mada (1350-1389). Pada saat itu di Sumbawa di kenal adanya kerajaan Dewa Awan Kruing, yang memiliki vassal (kadipaten) yaitu kerjaan Jereweh, Taliwang, dan Seran. Raja terakhir dari kerajaan Dewa Awan Kuning yang bersifat Hinduistis adalah Dewa Majaruwa, yang kemudian memluk agama Islam. Perubahan agama ini berkaitan dengan adanya hubungan dengan kerajaan Islam pertama di Jawa, yakni kerajaan Demak (1478-1597). Kemudian pada tahun 1623 kerjaan Dewa Awan Kuning ini takluk kepada kerajaan Goa dari Sulawesi Selatan.

Hubungan dengan kerajaan Goa kemudian diperkuat dengan perkawinan silang sebagai berikut : (lebih…)


Situs Bersejarah di Kabupaten Sumbawa

1. Makam Sampar
Letaknya tidak jauh dari kota Sumbawa besar, sekitar 1 km arah timur Dalam loka.
Dengan mendaki bukit setinggi 100 m dari Ai-Awak maupun Keban-Lapan kelurahan Seketeng, Sumbawa Besar, kita akan langsung tiba di depan gerbang lokasi perkuburan Makam Sampar.
Situs ini disebut Makam Sampar, karena terletak di atas sampar (daratan di atas bukit).
Sengaja di tempatkan di atas bukit mengikuti tradisi para leluhur yang biasanya membuat makam/perkuburan di atas bukit. Agak berbeda dengan makam-makam disekitarnya karena dimakam sampar ini merupakan kuburan para raja Sumbawa terdahulu bersama ahli kerabatnya.
Meskipun lokasinya diatas bukit, namun tidaklah lebih tinggi dari makam-makam rakyat biasa di sekitarnya. Dan bahkan masih ada makam-makam  rakyat biasa yang berada lebih tinggi dari makam sampar itu sendiri. Makam Sampar dikelilingi oleh batu-batu yang disusun sedemkian rupa seperti tembok setinggi 1 m yang membatasinya dengan kuburan masyarakat biasa.
Siapa nama-nama raja Sumbawa yang dikuburkan di makam sampar tidak dapat ditunjukkan  dengan pasti karena tidak ada tanda-tanda khusus yang dicantumkan pada tiap kuburan. Hal ini terjadi dengan alasan bahwa islam tidak memperkenankan pengkultusan terhadap kuburan.
Sekarang ini disebelah timur Makam Sampar telah dibangun perumahan Bukit Permai, sehingga makin mudah kita mengunjungi Makam Sampar. Untuk mengunjungi kita dapat dipandu oleh juru Peliharanya Ahmad Yani yang tinggal di Keban Lapan Seketeng Sumbawa.

2. Makam Karongkeng
Karongkeng adalah sebuah desa yang berjarak 6 km dari Empang ibu kota kecamatan Empang (107 km dari Sumbawa Besar).
Untuk mengunjungi Makam Karongkeng kita dapat menggunakan kendaran cidomo, sepeda motor ataupun mobil karena jalannya cukup baik. Melalui jalur jalan dari Empang, sebelum memasuki dusun karongkeng ada tanjakan sepanjang 50 m. pada akhir tanjakan sebelah kanan terlihat papan petunjuk Makam Karongkeng. Memasuki areal makam terasa sejuk Karena berada di Lutuk kerimbunan daun pohon asem disekitarnya.
Untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan lebih jauh, ada juru pelihara  yang tinggalnya tidak jauh dari makam didalam dusun karongkeng yang bernama Ipok (Fatimah) ibunya Adnansyah. Mereka adalah keturunan juru pelihara makam terdahulu. Dari profil makam terlihat bahwa jasad yang terkubur ditempat itu bukanlah orang sembarangan. Beliau adalah H. Abdul Karim (Haji kari) seorang penyiar/mubaliq islam. Beliau adalah tokoh yang memiki karamah, karena konon beliau pergi dan pulang ke mekkah tanpa melalui perjalanan yang biasa. Abdul Karim adalah anak dari keluarga biasa, namun Allah mentaqdirkanya dengan ilmu dan karamah sehingga beliau mengembangkan islam di Sumbawa bagian timur jauh sebelum raja Sumbawa masuk islam di tahun 1623. Sayangnya kita tidak dapat mengetahui secara pasti masa kehidupan Abdul Karim.

3. Situs Ai Renung

Situs Ai Renung

Situs Ai Renung

Situs Ai Renung adalah situs pertama yang ditemukan di Kabupaten Sumbawa. Penemunya adalah Dinullah Rayes dari Kabin Kebudayaan Kabupaten Sumbawa tahun 1971 bersama Drs. Made Purusa dari Balai Arkeologi Denpasar serta tenaga ahli dari pusat Arkeologi nasional yang melakukan penelitian pertama. Pada penelitian pertama ditemukan hanya tiga buah sarkofagus, lalu setelah dilakukan penelitian yang berkelanjutan, sampai saat ini sudah ditemukan tujuh buah sakofagus (kuburan batu).
Disebut situ Ai renung Karena berada dikompleks persawahan Ai-renung dekat kampung Ai Renung (waktu itu). Seluruh lokasi tersebut berada dalam wilayah Desa Batu Tering kecamatan Moyohulu. Setelah dilakukan pemugaran, situs Ai Renung sebenarnya sudah dapat dijadikan obyek wisata budaya. Tetapi karena tidak ditunjangnya dengan pembangunan jalan raya ke lokasi situs, maka obyek menjadi jarang dikujungi orang.
Tetapi tidak jarang juga para mahasiswa dan peneliti asing datang ke Ai Renung, terlebih mahasiswa arkeologi.
Padahal lokasinya sangat memungkinkan untuk dukembangkan menjadi obyek wisata, baik wisata budaya, alam
(wana-wisata), camping dan lain-lain.
Untuk datang ke Ai Renung yang berjarak 5 km dari Batu Tering (30 km dari Sumbawa besar). Sebelum memasuki gerbang Desa Batu Tering, ada simpang jalan ke kanan arah selatan. Dari itu jalan kaki sejauh 5 km yang ditempuh selama 1 sampai 1,5 jam. Bagi yang nekad boleh saja naik motor karena jalan menanjak dan berbatu-batu, namun kendaraan tidak boleh dibawa masuk ke lokasi situs Karena akan mengganggu kelestarian benda cagar budaya.
(lebih…)