Sinis Menatap Dunia…

Mengapa Saya Tidak SMS Vote Komodo?

Partisipasi Pulau Komodo mengikuti ajang nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders sudah menuai kontroversi ketika tiba-tiba Menbudpar (waktu itu masih dijabat Bapak Jero Wajik) mengumumkan bahwa Pemerintah Indonesia secara resmi menarik Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis dalam ajang pemilihan tujuh keajaiban alam-baru atau New Seven Wonder of Nature (N7WN) yang semula akan dideklarasikanpada 11 November 2011. Pada awal Februari 2011, Jero Wajik pernah melapor ke Boediono Wapres tentang perihal syarat setor uang senilai US$45 juta atau lebih dari Rp. 400 miliar agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah final kontes ini. Saat itu, kata Jero Wajik, permintaan uang itu disertai ancaman Pulau Komodo akan dicoret jika Pemerintah Indonesia tidak bersedia.

Yang menguatkan saya untuk tidak ikut-ikutan vote adalah berita dari situs suarasurabaya.net. Dengan mengatasnamakan rasa malas, dibaca saja keseluruhan beritanya. Tidak saya potong-potong agar maknanya tidak berubah.

Ajakan Presiden Vote Komodo Dikritik Akademisi

suarasurabaya.net| Ajakan Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI pada menterinya dan publik untuk mendukung Pulau Komodo sebagai satu keajaiban dunia baru lewat vote SMS 9818 dikritik peneliti Komodo dan antropolog.

Prof. Putra Sastrawan peneliti Komodo sejak tahun 1969 yang juga mantan Pembantu Rektor III Universitas Udayana pada suarasurabaya.net, Kamis (20/10/2011) mengatakan tidak etis Presiden melakukan promosi untuk kepentingan New7Wonders yang notabene adalah lembaga swasta yang tidak punya afiliasi dengan Unesco.

Dikatakan Putra, yang paling dibutuhkan Komodo saat ini adalah konservasi, bukan justru mempopulerkannya, apalagi lewat SMS macam audisi idol. “Komodo sudah populer sejak diterbitkan pada jurnal ilmiah dunia pada tahun 1912. Statistik Kehutanan menyebutkan 95% pengunjung pulau ini adalah orang asing. Artinya, di luar negeri, pulau ini sudah populer,” kata dia.

Selain itu, jelas Putra, diperlukan adanya penguatan stake holders di sekitar habitat Komodo. Saat ini diakuinya, ada penurunan jumlah populasi Komodo sejak penelitiannya tahun 1969 sampai dengan tahun 2000-an. Pada survey periode 1969-1970, jumlah Komodo yang tersebar di Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Flores mencapai 5.500 ekor. Pada survey tahun 2000-an, jumlahnya tidak kurang dari 3 ribu ekor.

Selain itu dijumpai fakta berkurangnya makanan untuk spesies ini, menyebabkan terjadinya degradasi ukuran tubuh. Pada tahun 1969 pernah dijumpai Komodo dengan panjang 3,24 meter. Tapi pada penelitian tahun 2000-an, paling panjang hanya 3,12 meter.

Dengan kondisi ini, kata Putra, yang dibutuhkan adalah penguatan masyarakat sekitar agar tetap konsisten menjaga habitat Komodo.

Kritik serupa juga disampaikan Prof. Dr. Laurentius Dyson guru besar Antropologi Fisip Universitas Airlangga. Menurut dia, jika Presiden sampai ikut-ikut mempromosikan Pulau Komodo lewat New7Wonders, sama dengan melakukan pembodohan pada masyarakat. “Lagi-lagi masyarakat dieksploitasi dengan diajak kirim SMS untuk mendukung sesuatu yang tidak jelas manfaatnya,” kata dia.

Secara etika pun, kata Dyson, tidak etis jika Presiden ikut berkampanye untuk kepentingan New7Wonders yang notabene adalah lembaga swasta.(edy)

Dan juga berita tentang duit “upeti” guna “Pesta” New Seven Wonder of Nature (N7WN):

Fulus di Balik Kontes Keajaiban Dunia Baru

suarasurabaya.net| Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI dalam sela peresmian Bandara Internasional Lombok mengajak seluruh menteri di jajaran kabinetnya dan publik untuk ikut mendukung Komodo masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonders. Caranya dengan vote SMS 9818 untuk semua operator.

Langkah Presiden ini menyusul apa yang dilakukan Jusuf Kalla sebelumnya mengkampanyekan Pulau Komodo agar bisa menyodok kompetisi bersama 27 negara lainnya. Secara massif, Jusuf Kalla melakukan kampanye ini.

Bahkan bekerjasama dengan 3 operator seluler utama di Indonesia (Telkomsel, Indonesat, dan XL) untuk mengurangi biaya SMS Premium 9818 dari Rp1000 menjadi Rp1 agar masyarakat tidak diberatkan dengan dukungan ini. “Cukup ketik komodo, kirim ke 9818,” kata JK dalam beberapa kali kesempatan.

Belakangan, mantan Wapres RI ini didaulat menjadi duta besar Pulau Komodo. Perannya, memperjuangkan Pulau Komodo menjadi satu diantara 7 keajaiban dunia baru. Gerakan global yang digalang New7Wonders ini akan menggelar finalnya pada 11 November 2011 mendatang.

Jika dirunut ke belakang, sebenarnya hubungan pemerintah RI (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata) dengan Yayasan New7Wonders ini pernah tidak harmonis. Ini tatkala Jero Wajik Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu sempat merasa diancam oleh Yayasan New7Wonders.

Pada awal Februari 2011, Jero Wajik pernah melapor ke Boediono Wapres tentang perihal syarat setor uang senilai US$45 juta atau lebih dari Rp400 miliar agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah final kontes ini. Saat itu, kata Jero Wajik, permintaan uang itu disertai ancaman Pulau Komodo akan dicoret jika Pemerintah Indonesia tidak bersedia.

Atas pernyataan pemerintah RI itu, New7Wonders dalam situsnya membantah. Pemerintah RI dianggap wanprestasi atas aspek legal formal yang harus disiapkan jelang final penganugerahan 11 November 2011 mendatang. Disebutkan pula oleh yayasan yang dipimpin oleh Bernard Weber, respon pemerintah RI dinilai lamban dan diskusinya tidak produktif.

Soal fulus yang diminta New7Wonders sebenarnya tidak hanya dialami pemerintah Indonesia. Ini juga dialami oleh Pemerintah Maladewa yang mengikutsertakan kepulauannya sebagai satu diantara nominator New7Wonders.

Mengutip situs resmi otoritas pariwisata Maladewa (http://www.visitmaldives.com/en/news_posts/97) tertanggal 18 Mei 2011, Maladewa mengancam mundur dari pencalonan New7Wonders karena panitia meminta license fee dan paket sponshorsip yang kelewat mahal buat negara kepulauan di tanduk semenanjung India itu.

Thoyyib Mohamed Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Maladewa mengatakan pihaknya sebenarnya sudah setor dana administrasi keikutsertaan senilai US$199. Tapi belakangan, ada keharusan untuk membayar sejumlah biaya, diantaranya (dengan kurs US$1 = Rp8.800):

–     Sebuah Platinum sponsorship license fee senilai US $350 ribu atau Rp3 miliar lebih

–     Dua Gold sponsorship license fees masing-masing senilai US $210 ribu atau Rp1,8 miliar

–     Event ‘World Tour’ sponsorship dimana pemerintah Maladewa harus membiayai tiap delegasi New7Wonders yang datang dengan menyediakan fasilitas perjalanan balon udara, kunjungan pers, tiket pesawat, akomodasi, komunikasi, dll.

–     License fee senilai US $1 juta Rp8,8 miliar untuk penyedia jasa telekomunikasi lokal yang berpartisipasi. Belakangan, nilai ini dikurangi jadi separuhnya setelah dilakukan negosiasi.

–     License fee senilai US $1 juta atau Rp8,8 miliar bagi maskapai penerbangan Maladewa untuk pemasangan logo New7Wonders pada tiap unit pesawat mereka.

Bob Assegaf dari Forum Wartawan Pecinta Komodo mengatakan setelah berselisih paham dengan pemerintah RI, yayasan New7Wonders kemudian menggandeng aktivis LSM di Indonesia. Lalu sebuah LSM bernama Pendukung Pemenangan Komodo (P2K) didirikan Emmy Hafild.

LSM ini lalu menggandeng Jusuf Kalla sebagai vote gather SMS dukungan Komodo. Kemudian disusul dengan langkah Jusuf Kalla menggandeng sejumlah operator untuk mensubsidi nomor pendek 9818 sehingga masyarakat hanya perlu membayar Rp1 untuk masing-masing SMS.

Bagaimana pembagian keuntungan SMS vote ? Bob mengaku tidak tahu pasti bagaimana perjanjiannya. Saat suarasurabaya.net mencoba konfirmasinya, HP Emmy Hafild tidak pernah diangkat meskipun sudah dikirimkan SMS dan berkali-kali dihubungi.

Jika targetnya 100 juta SMS dan tiap SMS-nya dihargai Rp1.000, maka bisa didapatkan uang senilai Rp100 miliar yang belum dibagi hasil. “Kita tidak tahu bagaimana pembagiannya jika target Rp100 miliar dari SMS itu terpenuhi. Apakah uang itu sampai ke pulau Komodo? Dirasakan masyarakat sekitar Pulau Komodo? Kami tidak tahu,” kata dia.

Prof. Putra Sastrawan peneliti Komodo sejak tahun 1969 yang juga mantan Pembantu Rektor III Universitas Udayana tahun 1998 hingga 2003 mengatakan Komodo di habitatnya lebih membutuhkan konservasi untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Saat ini sudah terjadi degradasi populasi dalam 40 tahun terakhir. Dari sekitar 5.500 ekor pada tahun 1969 menjadi sekitar 3 ribu ekor saja.

Ini karena habitatnya semakin terancam dengan kurangnya makanan, tergeser oleh permukiman manusia, dan juga perburuan.

“Mass Tourism sangat tidak direkomendasikan untuk konservasi Komodo. Yang penting saat ini adalah bagaimana stake holder di habitat Komodo bisa menjaga keberlangsungannya. Karena itu yang paling penting adalah penguatan masyarakat stake holders,” ujar dia.(edy)

Sumber:

Ajakan Presiden Vote Komodo Dikritik Akademisi

Fulus di Balik Kontes Keajaiban Dunia Baru

Iklan

One response

  1. saya sih g ikut2an kalo masalah kek gini

    @ dunia otan: hehehehe… Memang serba salah, Bro… Makasih kunjungannya.

    1 November 2011 pukul 12:32 pm

Tinggalkan Komeng Pliiiis. Karena komeng sebagian dari Ngeblog :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s